Cegah Karhutla di Rajabasa, Damkarmat Lamsel Ajak Warga Waspada Api

Kegiatan sosialisasi “Masyarakat Peduli Karhutla" di Aula Kantor Desa Way Muli, Rajabasa
Kegiatan sosialisasi “Masyarakat Peduli Karhutla” di Aula Kantor Desa Way Muli, Rajabasa, Selasa 1 September 2026. Foto: Diskominfo Lamsel

RAJABASA — Masyarakat pesisir Rajabasa didorong menjadi garda terdepan mencegah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Imbauan itu menguat di tengah cuaca panas dan musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran di kawasan Gunung Rajabasa.

Ajakan tersebut dalam sosialisasi “Masyarakat Peduli Karhutla”. Tim Penyuluh dan Edukator Pencegahan Karhutla Kodim 0421/Lampung Selatan (Lamsel) menggelar acara itu di Aula Kantor Desa Way Muli, Kecamatan Rajabasa, Selasa 1 September 2026.

Sekitar 50 warga tinggal di sekitar Gunung Rajabasa mengikuti kegiatan ini. Hadir Ketua Tim Penyuluh Brigjen Bangkit Rahmat Tri Widodo, Kepala Dinas Damkarmat Lamsel M. Sefri Masdian, Kepala Pelaksana BPBD Maturidi, dan Camat Rajabasa Firdaus.

Akibat Ulah Manusia

Kepala Dinas Damkarmat Lamsel, M. Sefri Masdian menyebut kondisi El Nino membuat kemarau lebih panjang dan kering. Dampaknya tak hanya ke pertanian dan air bersih, tapi juga meningkatkan potensi kebakaran.

Berdasarkan data Dinas Damkarmat hingga 31 Agustus 2026, telah terjadi 128 kebakaran di Lamsel. Dari jumlah itu, 55 kejadian merupakan kebakaran lahan.

“Dari data kami, kebakaran lahan semuanya akibat aktivitas manusia. Seperti pembakaran sampah, pembukaan lahan dengan cara dibakar, atau membuang puntung rokok sembarangan,” jelas Sefri.

Ia menyontohkan kebakaran di Taman Nasional Way Kambas (TNWK) pada 21 Agustus 2026. Diduga dipicu pemburu liar yang membuat perapian dan lalai memadamkan.

Akibat kebakaran di TNWK, api menghanguskan 912,49 hektare dan baru padam pada 28 Agustus 2026 setelah mengerahkan 250 personel.

Warga Jadi Tulang Punggung

Mewakili Tim Penyuluh, Kolonel Adm TNI AU Muhammad Sukirno menegaskan keberhasilan pencegahan Karhutla tak hanya di tangan pemadam, BPBD, TNI dan Polri.

“Masyarakat justru paling dekat dengan potensi api. Masyarakat adalah tulang punggung mencegah kebakaran sebelum meluas,” katanya.

Ia mengajak seluruh elemen, dari tokoh adat hingga warga pelosok desa, mengubah cara pandang.

“Mari ubah dari tidak peduli menjadi peduli, dari siaga menjadi waspada,” ajaknya.

Sefri juga meminta warga menghindari aktivitas yang memicu api dan berani saling mengingatkan.

“Jika melihat orang membakar sampah di area rawan atau membuka lahan dengan cara dibakar, tolong diingatkan. Itu bahaya,” ujarnya.

Cegah Api Sejak Dini

Belajar dari kejadian TNWK, Sefri mengingatkan pentingnya mencegah api sejak dini. Apalagi Lampung Selatan memiliki kawasan Gunung Rajabasa seluas 5.200,5 hektare.

“Mari kita jaga bersama agar Gunung Rajabasa tetap hijau dan tetap memberi penghidupan kita semua,” katanya.

Dengan edukasi dan penguatan peran masyarakat, pencegahan karhutla diharapkan tak menunggu api besar. Kepedulian warga menjadi sistem peringatan paling awal menjaga hutan dan lingkungan sekitar Gunung Rajabasa tetap aman. (kmf)

Related posts

Leave a Comment