Wagub Jihan Tinjau Penanganan Karhutla Way Kambas di Posko OMC

Wagub Lampung Jihan Nurlela meninjau penanganan karhutla serta kesiapan personel dan peralatan pendukung pemadaman di Posko OMC, Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan.
Wagub Lampung Jihan Nurlela meninjau penanganan karhutla serta kesiapan personel dan peralatan pendukung pemadaman di Posko OMC, Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan, Minggu 18 Oktober 2026. Foto: Istimewa

LAMPUNG SELATAN – Wakil Gubernur (Wagub) Lampung Jihan Nurlela meninjau penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memastikan kesiapan personel dan peralatan pendukung pemadaman, khususnya di kawasan Taman Nasional Way Kambas (TNWK), di Posko Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), Bandara Radin Inten II, Lampung Selatan, Minggu 18 Oktober 2026.

Penanganan karhutla di kawasan TNWK saat ini didukung 350 personel gabungan, termasuk 200 personel tambahan dari unsur TNI. Dukungan peralatan juga diperkuat dengan bantuan 15 nozzle dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menunjang upaya pemadaman oleh tim darat.

Penguatan penanganan dari darat menjadi penting karena operasi pemadaman melalui udara atau water bombing masih menghadapi kendala kondisi vegetasi TNWK yang memiliki tajuk pepohonan rapat. Kondisi itu menghambat air mencapai permukaan lahan gambut secara optimal, sehingga pemadaman langsung personel di lapangan tetap menjadi bagian penting menangani karhutla.

Tim gabungan terus bekerja keras memadamkan melalui jalur darat dan udara untuk mengendalikan kebakaran di kawasan TNWK. Upaya ini secara terpadu dengan mempertimbangkan kondisi medan dan cuaca yang menjadi tantangan dalam proses pemadaman.

Jihan meminta BPBD Provinsi Lampung mendata seluruh personel dan peralatan yang siap digunakan di setiap kabupaten/kota. Pendataan ini untuk mengetahui kapasitas penanganan karhutla menyeluruh dan memastikan dukungan dapat dikerahkan sesuai kebutuhan, tidak hanya terfokus kawasan TNWK.

Dia juga mengarahkan pemetaan kemampuan penanganan berdasarkan skala kebakaran, mulai kecil, sedang, hingga besar. Dengan pemetaan ini, kebutuhan personel, peralatan, dan dukungan operasional dapat disesuaikan dengan tingkat kebakaran serta kondisi masing-masing wilayah.

OMC di Lampung selama periode 11–18 Oktober 2026 mencatat sembilan sortie penerbangan dalam delapan hari kegiatan. Operasi ini menggunakan satu pesawat Cessna Caravan 208B EX yang berpangkalan di Bandara Radin Inten II.

Dalam pelaksanaannya, OMC menggunakan 3.000 kilogram natrium klorida (NaCl) dan 4.800 kilogram dry ice. Penyemaian NaCl pada 11–13 Oktober berhasil memicu hujan, tapi pergerakan angin menyebabkan hujan turun di Kota Metro dan Kecamatan Natar, bukan di kawasan TNWK yang menjadi sasaran utama.

Pemantauan titik api juga terus di sejumlah wilayah Lampung. Hasil evaluasi menunjukkan titik api dengan tingkat kepercayaan tinggi turun dari 11 titik menjadi nihil. Meski demikian, titik api dengan tingkat kepercayaan sedang masih terpantau sehingga tetap perlu kewaspadaan dan pemantauan di lapangan.

Jihan turut meminta agar informasi mengenai titik api dan polusi asap beredar di media sosial segera diverifikasi melalui pengecekan kondisi terkini di lapangan. Langkah ini penting untuk memastikan informasi yang masyarakat terima akurat dan mencegah kesalahpahaman akibat foto atau kabar lama yang kembali beredar.

Pemprov Lampung terus mendorong penanganan karhutla melalui kesiapan personel dan peralatan, pemantauan titik api, serta koordinasi lintas instansi. Upaya tersebut untuk memperkuat pemadaman, mencegah meluasnya kebakaran, dan melindungi kawasan hutan serta masyarakat dari dampak karhutla. (*)

Related posts

Leave a Comment