
BANDARLAMPUNG, SAYLAMPUNG.ID- Saat ini populasi sapi potong meningkat di Lampung, dari 904.076 ekor pada tahun 2021 menjadi 916.458 ekor.
Tahun 2022 dengan aktivitas ekonomi pada subsektor peternakan melonjak 0,1 persen dari 4,62 persen (2021) naik menjadi 4,72 persen (2022).
Gubernur Lampung, Arinal Djunaidi, mengatakan, populasi sapi potong meningkat ini membuka peluang peternak terus meningkatkan kapasitas produksi peternakan.
“Kondisi ini kans Lampung jadi lokomotif pertanian subsektor peternakan,” kata Arinal Djunaidi dalam Rapat Koordinasi dan Pelaporan Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) Provinsi Lampung di Hotel Radisson, Selasa (17/10/2023).
Menurutnya, kans ini karena dukungan beberapa faktor, seperti peternak beternak kian baik, sumber pakan melimpah seperti limbah pertanian, limbah perkebunan dan lain-lain.
“Juga sektor swasta cukup besar menyumbang kontribusi sektor peternakan, seperti pabrik pakan dan feedloter, perusahaan pembibitan, dan lainnya,” katanya
Ia menjelaskan, PMK ialah salah satu penyakit cukup besar berdampak bagi peternak.
Meski tak menular ke manusia, ternak sapi, kambing/domba dan babi, PMK sangat mudah menular melalui udara.
Hal itu, menurut ia, merugikan ekonomi cukup besar. Tak hanya peternak namun bagi daerah dan negara, antara lain menurun produktivitas tingkat peternakan berupa menurun fertilitas sapi dan produksi susu.
“Lalu pemusnahan ternak sakit, gangguan perdagangan domestik dan hilang peluang ekspor ternak serta biaya eradikasi cukup besar,” ungkapnya.
PMK, kata ia, bukan momok harus menakutkan, melainkan tantangan satu bangsa dan negara menghadapi wabah penyakit ternak yang dapat mengancam berlangsung hajat hidup orang banyak.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Lampung, Lili Mawarti, menjelaskan, Lampung telah menekan kasus PMK hingga zero reported case (tidak ada laporan kasus) sejak 12 Oktober 2022, sampai hari ini. (kmf)