
BANDARLAMPUNG – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung kembali mencatatkan kinerja positif dalam mengendalikan inflasi.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) hingga Juli 2026, Lampung menjadi provinsi dengan inflasi tahunan (year-on-year) terendah di Pulau Sumatera, yakni 1,76 persen.
Capaian ini menjadi indikator keberhasilan langkah pengendalian harga secara konsisten untuk menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat.
Inflasi Nasional Turun
Keberhasilan tersebut disampaikan dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah 2026 yang dirangkaikan dengan Sosialisasi Perubahan Regulasi Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS), Senin 4 Agustus 2026.
Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri (BSKDN) Kementerian Dalam Negeri Yusharto Huntoyungo memimpin rapat dan seluruh pemerintah daerah mengikutinya secara virtual.
Staf Ahli Gubernur Bidang Pemerintahan, Hukum, dan Politik Yanyan Ruchyansah mewakili Pemprov Lampung mengikuti rapat itu dari Command Center Diskominfotik Provinsi Lampung.
Yusharto Huntoyungo menjelaskan inflasi nasional terus membaik. Pada Oktober 2022 inflasi nasional 5,95 persen, dan hingga akhir Juli 2026 berhasil ditekan menjadi 2,88% secara tahunan dengan deflasi bulanan 0,14 persen.
“Ini hasil kerja bersama seluruh pemerintah daerah yang konsisten mengendalikan inflasi sehingga stabilitas harga terjaga,” ujar Yusharto.
Dalam pemaparannya, ia menyebut Lampung sebagai daerah dengan inflasi terendah di Sumatra. Sementara inflasi tertinggi di kawasan itu ada di Provinsi Aceh 5,38 persen.
Yusharto juga mengingatkan pemerintah daerah untuk terus mengawasi perkembangan harga komoditas strategis, seperti beras, bawang putih, minyak goreng, daging ayam ras, dan daging sapi yang masih menjadi penyumbang inflasi di berbagai wilayah.
Di sisi lain, harga bawang merah, cabai merah, cabai rawit, dan gula pasir cenderung menurun di sebagian besar daerah.
Lampung Timur Deflasi Terdalam
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menyebut Indonesia pada Juli 2026 deflasi bulanan 0,14 persen, inflasi tahunan 2,88 persen, dan inflasi tahun kalender 1,65 persen. Pemicunya karena turunnya harga kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Komoditas penyumbang deflasi turun, yaitu bawang merah, cabai rawit, cabai merah, telur ayam ras, dan tomat. Sementara beras dan bawang putih masih mengalami kenaikan harga.
Ateng juga mengungkapkan Lampung Timur menjadi daerah dengan deflasi terdalam di wilayah Sumatra dan termasuk kabupaten dengan inflasi tahunan terendah di kawasan tersebut.
“Early Warning” Diperkuat
Yanyan Ruchyansah menyampaikan penurunan inflasi Lampung signifikan.
“Secara month-to-month dari 0,55 persen menjadi minus 0,49 persen. Year-on-year turun dari 2,46 persen menjadi 1,76 persen. Year-to-date dari 2,40 persen menjadi 1,92 persen,” jelas Yanyan.
Ia menyebut inflasi turun ini sejalan dengan Indeks Perkembangan Harga (IPH) Lampung yang beberapa pekan terakhir berada pada level negatif.
Selain itu, Yanyan meminta perangkat daerah mempercepat koordinasi pelaksanaan Program BSPS dan memperkuat sistem early warning inflasi melalui pemantauan produksi, distribusi, harga harian, pasokan, dan ekspektasi pasar.
“Saya berharap early warning terus diperkuat agar gejolak harga bisa dideteksi lebih awal. Dengan pemantauan detail, pemerintah daerah bisa ambil langkah cepat untuk jaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” pungkasnya.
Capaian inflasi terendah di Sumatra ini mempertegas komitmen Pemprov Lampung menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat daya beli, dan menyiptakan iklim usaha kondusif. (Pemprov Lampung)