
BANDARLAMPUNG- Pemerintah Provinsi (Pemprov) Lampung menegaskan arah pembangunan 2025-2030 akan fokus menguatkan ekonomi desa, hilirisasi pertanian, dan optimalisasi program nasional agar manfaat ekonomi tak hanya terpusat di perkotaan.
Begitu kata Kepala Dinas Kominfotik Provinsi Lampung, Ganjar Jationo dalam sarasehan bertema “Lampung Mau Dibawa ke Mana?” di Hotel Radisson Bandarlampung, Senin (11/5/2026).
“Fokus Gubernur dengan Desaku Maju ini buat program pusat tetap inline, tapi nilai tambah harus bertahan di desa. Uangnya jangan lari ke kota,” ucap Ganjar Jationo mewakili Gubernur Lampung.
SMSI, JMSI, dan AMSI Lampung menggelar saresehan itu membahas arah pembangunan Lampung 2025-2030. Hadir narasumber dari pemda, TNI, Polri, hingga Satgas Makan Bergizi Gratis (MBG) Lampung.
Ganjar menyebut visi Lampung selaras Indonesia Emas 2045. Pemprov menempatkan pertanian, perdagangan, dan industri pengolahan sebagai tulang punggung ekonomi daerah. “Lampung tak punya tambang besar. Kuncinya hilirisasi pertanian agar nilai tambah tetap di daerah,” katanya.
Pekerjaan Rumah
Ia menyebutkan, sejumlah indikator makro Lampung tren positif. Kemiskinan 9,66 persen pada 2025 atau sudah di bawah dua digit, inflasi terkendali, dan pengangguran di bawah rata-rata nasional. Ekonomi tumbuh 5,58 persen atau tertinggi di Sumatra setelah Riau.
Meski begitu, ia mengakui masih ada pekerjaan rumah besar, terutama meningkatkan Indeks Pembangunan Manusia dan menguatkan nilai tukar petani. Pemerintah daerah butuh jangka panjang perbaiki kualitas SDM.
Pemprov merumuskan 7 program unggulan, yaitu mendukung MBG, Lampung lumbung pangan nasional, energi terbarukan, optimalisasi ekonomi desa, pemerataan pendidikan, stabilisasi harga, dan meningkatkan kemantapan jalan.
Ganjar menegaskan, program Desaku Maju jadi instrumen utama pemprov maksimalkan ekonomi berputar di desa. Ini bertujuan agar petani, peternak, dan UMKM lokal memenuhi rantai pasok MBG.
Tantangan terbesar, kata ia, ialah skala ekonomi dan kontinuitas pasokan. Banyak petani dan pelaku usaha di desa belum punya Nomor Induk Berusaha sehingga tak bisa masuk sistem distribusi program nasional.
Energi Terbarukan
Menurutnya, pembangunan infrastruktur ekonomi penting di sentra produksi pertanian. Salah satunya melalui penyediaan fasilitas pengering gabah (dryer).
“Jika sediakan dryer di berbagai sentra komoditas, bisa menekan biaya produksi dan biaya angkut. Margin keuntungan bisa berputar di desa,” ujarnya.
Pemprov juga mendorong energi baru terbarukan berbasis biomassa dan bioetanol. Limbah pertanian, seperti daun tebu dan singkong, dapat jadi sumber energi alternatif masa depan.
Kepala Bapenda Lampung, Saipul memaparkan capaian MBG. Lampung tertinggi nasional sekitar 1.150 dapur beroperasi dengan melayani 2,3 juta penerima manfaat. Sebanyak 84,6% dapur sudah kantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi.
Ketua Satgas MBG Lampung ini mengakui masih terdapat sejumlah soal di lapangan, mulai standar dapur, sertifikasi higiene sanitasi, hingga kasus keracunan makanan.
Kunci Sejahtera
Asintel Kasdam II/Sriwijaya Kolonel Inf Erwin Agung berkata, TNI mendukung MBG, Koperasi Desa Merah Putih, dan membangun jembatan di daerah. “Lampung jadi tercepat bangun Koperasi Desa Merah Putih di luar Jawa,” ujarnya.
Kasubbid PID Bidang Humas Polda Lampung, Kompol Andri Yulianto Polda Lampung menegaskan, menjaga keamanan jadi prasyarat membangun daerah. Juga perkuat patroli siber menekan hoaks dan menjaga ruang digital tetap sehat.
“Media punya peran menjaga kualitas informasi publik,” ujarnya.
Ketua AMSI Lampung Hendri Setiadi mengingatkan, MBG bukan sekadar makan gratis. “Dana MBG sangat tinggi. Harus mampu gerakkan ekonomi masyarakat desa,” tegasnya.
Penguatan ekonomi desa, hilirisasi pertanian, dan optimalisasi program nasional akan jadi kunci meningkatkan sejahtera masyarakat Lampung lebih merata. (kmf)