
KALIANDA- Setelah berbulan-bulan terjebak dalam jerat sindikat calo tenaga kerja kapal ikan di Merauke, Papua Selatan, Ahmad Abi Ar-Razi, yang akrab disapa Aji, kembali ke kampung halamannya di Lampung Selatan.
Kepulangannya bukan sekadar perjalanan pulang, melainkan kisah penuh luka, harapan, dan peringatan bagi banyak orang.
Aji tiba di Bandara Radin Inten II, Rabu (8/4/2026) sekitar pukul 20.10 WIB, setelah menempuh perjalanan panjang dari Merauke, Provinsi Papua Selatan.
Kedatangannya disambut haru oleh keluarga yang telah lama menanti, bersama jajaran Dinas Sosial Lampung Selatan yang turut mendampingi proses kepulangannya.
Suasana emosional kembali terasa pada Kamis (9/4/2026), saat Bupati Lampung Selatan, Radityo Egi Pratama, mengunjungi kediaman orang tua Aji di Lingkungan 05 Sukajadi, Kecamatan Kalianda.
Kunjungan Bupati Egi menjadi bentuk peduli pemerintah daerah terhadap kondisi Aji yang kini tengah menjalani pemulihan kesehatan.
Gangguan Kesehatan
Hasil pemeriksaan awal, Aji mengalami sejumlah gangguan kesehatan, mulai dari batuk berdahak hijau, anemia, hingga keluhan pada kaki yang membuatnya sulit berjalan normal.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan pun berencana menerjunkan tim medis guna memastikan proses pemulihan berjalan optimal.
Bupati Egi prihatin atas apa yang dialami Aji. Ia menilai kasus ini harus menjadi peringatan serius masyarakat agar lebih waspada terhadap tawaran kerja tak jelas.
“Kita turut prihatin atas musibah ini. Saya mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati menerima tawaran pekerjaan. Jangan mudah percaya dengan janji-janji belum jelas,” ujarnya.
Tak hanya itu, Egi juga menegaskan akan menelusuri pihak-pihak yang diduga terlibat dalam praktik penipuan ini. Jika menemukan pelanggaran hukum, proses penindakan akan sesuai dengan aturan berlaku.
Di tengah kondisi masih lemah, Aji mendapat dorongan untuk kembali melanjutkan pendidikan. Ia sempat bersekolah hingga kelas satu SMA sebelum memutuskan bekerja.
“Saya sarankan Aji sekolah lagi, minimal lulus SMA, supaya ke depan lebih mudah mendapatkan pekerjaan layak. Sehat dulu, pendidikan juga penting,” pesan Egi.
Iming-iming
Kisah pahit Aji bermula saat ia menerima tawaran kerja di kapal ikan dengan iming-iming gaji Rp5 juta per bulan.
Ia berangkat dari Jakarta menuju Merauke dengan harapan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.
Namun kenyataan yang ia hadapi jauh dari harapan. Setibanya di lokasi, gajinya langsung dipotong Rp4 juta dengan alasan biaya transportasi. Ia hanya menerima Rp1 juta di awal bekerja.
Selama kurang lebih 10 bulan bekerja, Aji mengaku hanya menerima gaji pada bulan pertama. Delapan bulan berikutnya, ia tak lagi dibayar, meski tetap dipaksa bekerja dalam kondisi berat.
“Kerjanya bisa sampai 24 jam, mancing terus. Kaki jadi sakit karena terlalu lama berdiri, sampai sekarang belum bisa berdiri normal,” ungkap Aji.
Pelajaran
Kini, di tengah proses pemulihan, rasa syukur tak henti Aji dan keluarganya ucapkan.
Sang ayah, Ahmad Yunus, berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kepulangan anaknya.
“Terima kasih banyak atas bantuan Bupati, Dinas Sosial, dan semua pihak yang sudah membantu Aji bisa pulang,” ujarnya.
Aji sendiri berharap kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi masyarakat luas.
“Alhamdulillah sekarang bisa kumpul lagi dengan keluarga. Pesan saya, cari kerja yang jelas, jangan sampai ketipu omongan manis orang,” katanya. (Kmf)