Inflasi Lampung Terendah, Bukti Stabilitas Harga Terjaga

Rakor pengendalian inflasi daerah secara virtual dari Command Center Lantai II Diskominfotik Provinsi Lampung. (Diskominfotik Lampung)

BANDARLAMPUNG- Provinsi Lampung kembali menegaskan berhasil menjaga stabilitas harga. Berdasarkan berita resmi Statistik Badan Pusat Statistik per 2 Februari 2026, inflasi Lampung secara tahunan (year-on-year/y-on-y) tercatat 1,90 persen, terendah di antara seluruh provinsi di Indonesia.

Capaian ini menempatkan Lampung pada posisi relatif aman di tengah tekanan inflasi nasional, terutama dari sejumlah daerah lain yang mencatat inflasi tahunan di kisaran 4 hingga 6 persen.

Inflasi y-on-y rendah ini menyerminkan efektivitas kebijakan mengendalikan harga di daerah. Selain itu, juga memberikan ruang menjaga daya beli masyarakat dan berlanjut aktivitas ekonomi.

Selain inflasi tahunan rendah, Lampung juga mencatat deflasi secara bulanan (month-to-month/m-to-m) sebesar 0,07 persen. Kondisi ini menunjukkan daerah berhasil mengendalikan tekanan harga jangka pendek, terutama awal tahun yang umumnya meningkat permintaan.

Deflasi itu mengindikasikan pasokan barang relatif terjaga dan distribusi kebutuhan pokok lancar.

Tingkat nasional, dinamika inflasi m-to-m masih beda antarwilayah. Sejumlah provinsi mengalami kenaikan harga cukup signifikan.

Dalam konteks ini, deflasi di Lampung menjadi sinyal positif, bahwa dapat menjaga stabilisasi harga tanpa memicu gejolak di tingkat konsumen.

Kombinasi inflasi tahunan terendah secara nasional dan deflasi bulanan terkendali menempatkan Lampung pada posisi strategis menjaga seimbang antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.

Kondisi ini mampu mendukung iklim investasi, memperkuat daya beli masyarakat, serta menjaga ketahanan ekonomi daerah sepanjang 2026.

Jika menilik akumulasi pergerakan harga sepanjang 2025, Lampung mencatat inflasi tahunan1,25 persen. Angka ini menyerminkan dinamika harga relatif terkendali di tengah fluktuasi ekonomi nasional sepanjang tahun.

Sepanjang 2025, pergerakan inflasi dan deflasi di Lampung menunjukkan pola cukup dinamis. Awal tahun, Lampung deflasi pada Januari sebesar minus 0,71 persen dan Februari minus 0,66 persen.

Tekanan inflasi kembali meningkat pada Maret sebesar 1,96 persen dan April 1,19 persen, yang menjadi periode inflasi bulanan tertinggi sepanjang tahun.

Memasuki pertengahan tahun, tekanan harga kembali mereda dengan deflasi pada Mei minus 0,58 persen dan Agustus minus 1,47 persen.

Paruh kedua tahun, inflasi bulanan cenderung stabil dan rendah, tercatat dari September hingga Desember masing-masing 0,16 persen, 0,23 persen, 0,36 persen, dan 0,59 persen.

Secara keseluruhan, inflasi tahunan 1,25 persen sepanjang 2025 menegaskan, stabilitas harga di Lampung tetap terjaga pada level rendah dan terkendali. Kondisi ini menjadi fondasi penting bagi perlindungan daya beli masyarakat serta keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. (kmf)

Related posts

Leave a Comment