
PESAWARAN- Sarasehan bersama warga Jawa Tengah (Jateng) berdomisili di Provinsi Lampung menjadi momentum menguatkan sinergi antardaerah sekaligus mempererat hubungan sosial, budaya, dan ekonomi.
Sarasehan itu di Balai Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Rabu (7/1/2026).
Wakil Gubernur (Wagub) Lampung, Jihan Nurlela, menilai Gubernur Jateng Ahmad Luthfi hadir sebagai bentuk perhatian dan peduli terhadap warga Jateng yang merantau dan menetap di Lampung.
Gubernur Jateng hadir di Lampung, jelas Jihan, bukan sekadar kunjungan silaturahmi, melainkan bagian dari misi strategis menguatkan kerja sama antardaerah.
“Gubernur Jateng hadir di Lampung ialah kehormatan bagi kami. Ini bukan hanya kunjungan biasa, melainkan bagian misi dagang dan kerja sama yang nyata antara Jateng dan Lampung,” ujarnya.
Dia mengungkapkan, sehari sebelumnya telah menandatangani kerja sama antarpemerintah daerah dan organisasi perangkat daerah, termasuk sektor pariwisata dan sektor strategis lainnya. Nilai transaksi kerja sama ini sekitar Rp830 miliar.
“Ini ialah stimulus pembangunan atas inisiasi Gubernur Jateng dan diharapkan dapat berkelanjutan serta berdampak positif perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Wagub Jihan juga menyoroti peran penting masyarakat Jawa, khususnya asal Jateng, dalam pembangunan Provinsi Lampung.
“Sejak masa kolonisasi hingga program transmigrasi pascakemerdekaan, masyarakat Jawa bukan hanya penonton sejarah, melainkan motor pembangunan peradaban di Lampung,” ujarnya.
Ikatan Sejarah
Gubernur Jateng Ahmad Luthfi menyampaikan, hubungan antara Jateng dan Lampung tak hanya bersifat administratif dan pembangunan, tapi juga memiliki ikatan sejarah kuat.
“Jumlah penduduk Lampung hampir sembilan juta jiwa, dan sekitar 60 persen ialah masyarakat Jawa, khususnya dari Jateng. Ini menunjukkan ada ikatan historis sangat kuat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, masyarakat Jawa telah bermigrasi ke Lampung sejak sebelum kemerdekaan hingga program transmigrasi era 1970-an.
Menurutnya, para perantau ini telah menyatu dan membangun Lampung sebagai rumahnya sendiri.
“Mereka sudah tak berkomitmen kembali ke daerah asal, karena telah membangun desa, ekonomi, dan kehidupan di Lampung. Ini ialah kebanggaan kita bersama dan wujud nyata kebinekaan Indonesia yang harus terus kita rawat,” katanya.
Ia berpesan agar masyarakat perantau tetap menjunjung nilai-nilai kearifan lokal di daerah tempat tinggalnya.
“Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya yakin masyarakat Jawa di Lampung sangat adaptif, kompetitif, dan mampu hidup rukun dengan seluruh suku,” katanya. (adpim)