Carut Marut Proyek Rabat Beton, Warga Minta Bongkar Ulang

Proyek pembangunan jalan rabat beton sepanjang 780 meter di Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Lampung Utara, diduga kuat asal jadi. (Istimewa)

BANDARLAMPUNG, SAYLAMPUNG.ID- Proyek pembangunan jalan rabat beton sepanjang 780 meter milik Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Cipta Karya Provinsi Lampung di Desa Wonomarto, Kecamatan Kotabumi Utara, Kabupaten Lampung Utara diduga kuat asal jadi.

Kondisi dilapangan, fisik pekerjaan rusak (retak) dan berongga pada dasar badan jalan yang ditakutkan akan mengalami patahan pada struktur beton kaku setebal 15 sentimeter dan lebar 3 meter ini.

Meski ketebalan 15 cm menjadi ukuran baku pembuatan rabat beton, dilapangan nampak pengerjaan dengan tebal bervariasi, mulai dari 8 cm hingga 12 cm pada berbagai titik.

Diketahui, pekerjaan dengan nomor kontrak 602.1/02/SPK-F/PSU/V.05/2025 yang dikerjakan selama 60 hari mulai dari tanggal 22 Mei 2025 hingga selesai.

Pekerjaan yang menurut aturan merupakan pekerjaan yang melalui mekanisme lelang, dikerjakan perusahaan pemenang tender CV. Artha Jaya Konstruksi dengan nilai pagu kontrak senilai Rp982,9 juta rupiah lebih.

Ponijan (61), warga sekitar mengeluhkan pekerjaan oleh oknum kontaktor melalui pekerjanya yang diduga kuat asal jadi. Warga menduga fisik jalan rabat beton itu tak akan bertahan lama.

Kecewa warga bertambah, setelah hujan melanda daerah sekitar yang menampakkan kondisi jalan berongga di bawah antara rabat beton dan badan jalan semula.

“Kami tak puas dengan hasil pekerjaan ini, kerjaannya tak rapih, dan banyak rusak di mana-mana. Padahal baru dibangun, pasti tak lama akan rusak lagi. Jadi, percuma kalau dibangun, malah hasilnya seperti ini,” keluhnya, saat diwawancarai dilokasi pengerjaan, Senin 30 Juni 2025

Ditambah lagi, mobilitas mobil angkutan, seperti truk pengangkut hasil bumi dan bahan bangunan dengan beban gandar, akan memberikan tekanan lebih pada rabat beton berongga itu.

“Kalau gantung begitu, jalan (rabat beton) dilindas mobil truk, ya, bisa-bisa patah, harusnya dipadati dulu lantai jalannya,” kata ia.

Padahal, kata ia, pekerjaan itu di bawah pengawasan Kepala Desa Wonomerto, Yusika Waskito. Seharusnya mutu pekerjaan bisa lebih maksimal, namun kenyataan di lapangan malah berbanding terbalik.

“Kepala Desa (Yusika Waskito) yang ngawas. Tapi kok hasilnya bukan nambah bagus, melainkan kian hancur,” tuturnya.

Warga lainnya juga meminta pihak pemborong dan dinas terkait membongkar ulang pekerjaan rabat beton yang dinilai jauh dari kata layak.

“Proyek hampir 1 miliar, tapi kok hasilnya begini. Bisa dibilang tak layak lah mas, masih bagusan hasil kerjaan dana desa atau program Pisew kalau seperti ini. Ya minta tolong dibongkar saja, dicor ulang saja lagi,” katanya.

Lemahnya pengawasan konsultan dan pihak dinas selama proses pekerjaan berlangsung diduga kuat menjadi faktor utama oknum kontraktor bekerja leluasa mengurangi volume dan mutu beton.

Sebab, struktur beton kurus kaku yang ada dilapangan banyak mengalami patahan dan retakan pada berbagai titik lokasi. Untuk mengelabui mata publik, oknum kontraktor diduga mengirimkan pekerja baru menutupi dengan acian baru pada titik-titik retakan.

Kendati demikian, kepala tukang yang ditemui di lokasi proyek mengatakan, rabat beton rusak sebab air hujan. Tergerusnya pasir dasar pada rabat beton karena tak ada siring di kanan-kiri jalan.

Dirinya dan pekerja lainnya mengaku bingung, hingga memutar otak untuk memulai memperbaiki pekerjaan dengan teknik grouting beton untuk meningkatkan stabilitas pada konstruksi beton mengalami retakan.

“Kerusakan berongga rabat beton itu karena pasirnya tergerus hujan, tak ada siring. Jadi, otomatis rusak dan kurang tebal itu, nanti kita grouting. Kalau yang ketebalan dipinggir sama berongga nanti mau di berem (pengurukan) oleh pak lurah (kepala desa),” ucapnya.

Sementara itu, Yongki perpanjangan tangan Habibi pemilik pekerjaan sempat menghubungi awak media. Ia mengaku sebagai orang suruhan Habibi yang meminta untuk tak menaikkan berita terkait proyek sedang dikerjakan.

“Saya ini kan suruhan Habibi, Habibi itu yang punya proyek. Minta tolong sih bang, jangan sampai naik berita. Saya koordinasi dulu dengan bos, karena saya tak bisa ambil keputusan,” ujarnya. (*)

Related posts

Leave a Comment